Rabu, 06 Agustus 2014

DERMATOGLYPHICS MEMBANTU SESEORANG MENGANALISA INBORN

ILMU DERMATOGLYPHICS

Melihat perkembangan Dermatoglyphics di Indonesia sejak tahun 2006 sampai sekarang semakin merosot. Dimana adanya informasi di tahun 2012 mengenai pernyataan bahwa Dermatoglyphics merupakan "ilmu semu" oleh seorang pakar psikologi di Indonesia. Sejalan dengan itu saya baru mengetahui penekanan dan tujuan daripada dermatoglyphics di Indonesia memiliki arti yang sempit dimana mereka ditentang karena mereka hanya menonjolkan sebagai penganalisa bakat dan minat seseorang saja. Lebih daripada analisa tersebut Dermatoglyphics merupakan tools / alat yang baik dari seseorang untuk mengetahui sejak dini sifat / alamiah sejak lahir. Adapun beberapa kasus yang telah kita tangani dalam melihat sifat bawaan dan lingkungan :

KASUS 1:
Seorang anak berusia 4 bulan , bagaimana dia dilahirkan dengan fisik yang normal. Anda tidak mengetahui bahwa anak tersebut merupakan anak yang terlambat bicara. Anda baru mengetahui setelah dia bertumbuh. Baru anda sadari bahwa anak anda berbeda dengan anak orang lain. ANDA BARU BINGUNG! DAN MENCARI SOLUSI UNTUK TERAPI WICARA. Seperti peribahasa "mencari payung , sewaktu hujan".
Alangkah baiknya bila kita dapat melihat bawaan lahiriah dia (otak bicara), sejak usia sedini mungkin  kita dapat mengetahui bahwa anak ini akan memiliki keteralambatan dalam wicara. Dengan demikian kita dapat MENGSETTING LINGKUNGAN WICARA sejak dini, mengajak anak ini berinteraksi sosial. Hal ini bila dilakukan sedini mungkin agar tidak mengalami kesulitan dimasa pertumbuhan anak sewaktu wicara. Peribahasa "Sedia payung sebelum hujan". Kita percaya bahwa lingkungan memiliki 70% pengaruh yang cukup kuat bagi bawaan lahiriah. Dengan Lingkungan yang kita bentuk sedemikian dari kesadaran kita akan kelemahan bawaan lahiriah seseorang maka akan otomatis akan memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi otak untuk diterapi sejak dini.

KASUS 2 :
Seorang anak usia sekolah dasar, dinyatakan oleh seorang dokter adanya ADHD yang disebabkan gangguan pada konsentrasi, sehingga tidak menyukai hafalan dan ketika belajar sering mengeluh pusing. Anak dinyatakan orang yang lambat belajar. Bila kita hanya melihat dari analisa diatas maka kita akan menjadi orang tua yang pasrah terhadap anaknya, sampai anak ini juga ikut tertekan oleh lingkungan yang harus mewajibkan dia belajar.
Setelah orang tua mengetahui bahwa kita ada pemeriksaan Fingerprint dan Footprint untuk melihat bawaan lahiriah (otak) , maka dia mencoba untuk memeriksakan anaknya. Setelah hasil dikeluarkan menyatakan bahwa orangtua mengetahui lebih dalam lagi bahwa permasalahnya terletak pada mata anak. Setelah diperiksakan ke dokter mata ternayta benar hasil MME bahwa anak saya memiliki masalah yang cukup tinggi pada matanya (secara bawaan lahir). Setelah berkacamata , ia dapat melihat lebih jelas dan menyukai belajar tanpa adanya keluhan pusing di kepalanya. Test ini sangat bermanfaat dan merupakan tools / alat yang baik untuk mengetahui lebih dalam dari otak yang dibawa sejak lahir.

KASUS 3:
Seorang anak muda / remaja berusia 13 tahun. Dimana orang tua memiliki permasalah yang sangat serius terhadap anak ini, disebabkan anak ini tidak dapat mengungkapkan perasaannya. Orangtua bingung dengan berbagai cara keras, lunak dan hukuman, reward sampai diajak bicarapun tidak dapat  memahami anaknya.
Sewaktu kita mengadakan analisa terhadap sidik jari tangan dan kakinya , kita mengetahui bagaimana cara lingkungan yang perlu disettingkan untuk anak ini, sehingga kedua orangtua dapat memahami diatas kelebihan dan kekurangannya. Hal ini membuat sekeluarga menemukan kata sepakat dalam mendidik anak mereka.

KASUS 4 :
Seorang anak berusia 2 tahun , dimana kami menganalisa dia memiliki beberapa kelemahan yang dimiliki sewaktu di usia sekolah dia akan mengalami persoalan yang besar dengan matematika. Kita mulai meng-setting lingkungan dimana dia harus menerima sejak dini matematika diajarkan secara menarik pada dirinya. Di usia 4 tahun anak ini mulai diperkenalkan penjumlahan dan pengurangan sampai di usia sekolah anak ini tidak mengalami kesulitan apapun di bidang matematika, dikarenakan lingkungan yang diberikan telah mempengaruhi otaknya dalam mengenal matematika. Sekarang di usia 10 tahun anak ini bertumbuh dan berkembang serta menyukai matematika dengan baik dan berprestasi. Andaikata kami tidak mengerti bagaimana bawaan otak anak tersebut (inborn) , kami hanya mengetahui ketika dia sekolah dan mendapatkan kesulitan yang besar pada matematika, maka kami baru mengatasi dengan kursus dan lain-lainnya , apakah ini adalah sudah "TERLAMBAT". Saya bersyukur adanya ilmu ini membawa kami lebih memahami lebih dalam mengetahui diri dan otak yang dibawa sejak lahir sehingga dapat membantu dia. (Ini merupakan kesaksian pribadi anak kami)

KASUS 5 :
Seorang anak yang authis di usia 6 tahun dengan single parent. Dimana orangtua mengetahui anaknya berkebutuhan khusus, dia mencoba untuk memahami anaknya sejak kecil. Dengan segala cara dia menganalisa dan menerapi anaknya dengan bantuan terapis. Tapi sang ibu tidak mengerti mengapa sampai diusia 6 tahun dia suka berteriak-teriak dengan suara yang tidak jelas membuat sang ibu marah dan pusing ketika mendengarkannya, maka seringkali dia memarahi anak supaya diam.
Ketika melihat analisa sidik jari MME maka diketahui bahwa anak ini sebenarnya tidak berteriak tapi dia ingin menyanyi dan suka menari tapi pita suaranya tidak terbentuk secara sempurna sehingga nyanyian yang dihasilkan hanya serupa teriakan yang didengarkan oleh sang ibu. Ketika ibu ini mengerti dan belajar untuk melihat / memperhatikan setiap kali dia berteriak / menyanyi , ya memang anak ini sangat gembira sekali, dari raut wajahnya sang ibu mulai memahami arti teriakan dari sang anak.

KASUS 6 : (Saya mengambil kutipan dari komentar sang ibu terhadap MME yang membantu menganalisa anaknya pada tahun 2008)
Sayang sekali MME kok baru masuk di Surabaya 2 bulan terakhir ini. Andai MME udah saya ketahui sejak 5 tahun yang lalu, masa-masa emas keponakan saya tidak dilalui dengan kesia-siaan gara-gara divonis Autis (padahal fungsi otaknya bagus semua alias bukan Autis, boleh dibilang hanya hiperaktif). Jadi sekarang lah waktunya saya ikut menginformasikan Fingerprint Test ini ke yang lain biar tidak banyak lagi generasi baru yang dengan serta merta dijudge sebagai Autis.Kendala saat ini di lingkungan saya adalah tingginya biaya test tsb, kapan ya pemerintah mo memberikan subsidi, hehe..... (boro-boro mo kasih subsidi, harga BBM aja naik-naik terus)Sukses selalu buat MME dan teamnya!Terima kasih juga buat pelayanannya yang ramah dan sabar. GBU all! pada ANAK NORMAL DI AUTHIS KAN

Melihat ke-enam kasus diatas dan masih banyak kasus yang lainnya yang kita miliki sebanyak 8000 kasus sampai saat ini  dan terus berkembang sampai sekarang. Kini kita menyadari bahwa TEST FINGERPRINT DAPAT MENOLONG MEREKA ! KENYATAAN DAN FAKTA BAHWA MEREKA MEMERLUKAN UNTUK MELIHAT BAWAAN LAHIR (OTAK BAWAAN/INBORN) DAN BAGAIMANA LINGKUNGAN YANG AKAN DIBENTUK UNTUK MEMPENGARUHI INBORN MEREKA.

KESIMPULAN BAHWA TEST FINGERPRINT BUKANLAH ILMU SEMU TAPI MERUPAKAN TOOLS / ALAT YANG TERBAIK UNTUK MENGETAHUI SEJAK DINI / INBORN SESEORANG SEHINGGA DAPAT DITANGANI SEJAK DINI DIATAS LINGKUNGAN YANG DIBENTUK.